قرار قضية متعددة
Identitas gender dan ketelanjangan
تم النشر بتاريخ 17 كانُون الثانِي 2023
Dewan Pengawas telah membatalkan keputusan awal Meta untuk menghapus dua postingan Instagram yang menggambarkan orang transgender dan nonbiner bertelanjang dada.
2 تم تضمين من الحالات في هذه الحزمة
IG-AZHWJWBW
Kasus tentang ajakan seksual di Instagram
IG-PAVVDAFF
Kasus tentang ajakan seksual di Instagram
Ringkasan kasus
Dewan Pengawas telah membatalkan keputusan awal Meta untuk menghapus dua postingan Instagram yang menggambarkan orang transgender dan nonbiner yang bertelanjang dada. Dewan Pengawas juga merekomendasikan agar Meta mengubah Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual supaya diatur berdasarkan kriteria yang jelas dan menghormati standar hak asasi manusia internasional.
Tentang kasus ini
Dalam keputusan ini, Dewan Pengawas mempertimbangkan dua kasus secara bersamaan untuk pertama kalinya. Dua konten terpisah diposting oleh akun Instagram yang sama, yakni pada tahun 2021, lalu satunya pada tahun 2022. Akun tersebut dikelola oleh pasangan yang berdomisili di AS dan diidentifikasi sebagai transgender serta nonbiner.
Kedua postingan itu menampilkan gambar pasangan tersebut sambil bertelanjang dada namun dengan puting tertutup. Keterangan gambar tersebut membahas perawatan kesehatan transgender dan mengatakan bahwa salah satu anggota dari pasangan tersebut akan segera menjalani operasi pengangkatan payudara (operasi penegasan gender untuk membuat dada yang lebih bidang), yang mana keduanya tengah menggalang dana untuk membayar operasi tersebut.
Usai serangkaian peringatan oleh sistem otomatis Meta dan laporan dari pengguna, postingan tersebut lantas ditinjau beberapa kali lantaran potensi pelanggaran berbagai Standar Komunitas. Meta akhirnya menghapus kedua postingan tersebut lantaran melanggar Standar Komunitas Ajakan Seksual, tampaknya karena mempertontonkan payudara dan tautan ke halaman penggalangan dana.
Para pengguna lantas mengajukan banding ke Meta dan kemudian ke Dewan. Setelah Dewan menerima kasus tersebut, Meta menemukan bahwa postingan tersebut telah dihapus karena kesalahan dan memulihkannya.
Temuan utama
Dewan Pengawas menemukan bahwa menghapus postingan ini tidak sejalan dengan Standar Komunitas, nilai, atau tanggung jawab hak asasi manusia Meta. Kasus-kasus ini juga menyoroti isu-isu mendasar dengan kebijakan Meta.
Panduan internal Meta untuk moderator tentang kapan harus menghapus konten berdasarkan kebijakan Ajakan Seksual ternyata jauh lebih luas daripada alasan yang ditetapkan untuk kebijakan tersebut atau panduan yang tersedia untuk publik. Hal ini menimbulkan kebingungan bagi para pengguna serta moderator dan, seperti yang telah diketahui Meta, menyebabkan konten tersebut keliru dihapus.
Setidaknya dalam satu kasus, postingan tersebut dikirim untuk ditinjau oleh manusia melalui sistem otomatis yang dilatih untuk menegakkan Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual. Standar ini melarang gambar yang berisi puting perempuan selain dalam keadaan tertentu, seperti menyusui dan operasi penegasan gender.
Kebijakan ini didasarkan pada pandangan biner tentang gender dan perbedaan anatomi antara tubuh laki-laki dan perempuan. Pendekatan semacam itu mengaburkan aturan yang berlaku untuk kalangan interseks, nonbiner, dan transgender, dan mengharuskan peninjau untuk membuat penilaian cepat dan subjektif tentang jenis kelamin dan gender, yang tidak efektif saat memoderasi konten dalam skala besar.
Pembatasan dan pengecualian aturan tentang puting perempuan sangat luas dan membingungkan, terutama karena berlaku untuk kalangan transgender dan nonbiner. Pengecualian terhadap kebijakan tersebut berkisar dari protes, hingga adegan persalinan, dan konteks medis serta kesehatan, termasuk operasi pengangkatan payudara dan kesadaran tentang kanker payudara. Pengecualian ini sering berbelit-belit dan tidak dijabarkan dengan baik. Dalam beberapa konteks, misalnya, moderator harus menilai sejauh apa dan tampilan sifat bekas lukanya untuk menentukan apakah pengecualian tertentu berlaku. Kurangnya kejelasan yang tercantum dalam kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian bagi pengguna dan peninjau, dan membuatnya tidak dapat dijalankan.
Dewan secara konsisten mengatakan bahwa Meta harus peka terhadap bagaimana kebijakannya memengaruhi orang-orang yang mengalami diskriminasi (lihat misalnya, keputusan “ Sabuk Wampum” dan “ Mengklaim kembali kata-kata berbahasa Arab”). Di sini, Dewan menemukan bahwa kebijakan Meta tentang ketelanjangan orang dewasa berujung pada hambatan berekspresi yang lebih luas bagi kalangan perempuan, transgender, dan gender nonbiner di platformnya. Misalnya, kebijakan tersebut berdampak serius dalam konteks ketika perempuan suku pedalaman sah-sah saja bertelanjang dada, dan orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai LGBTQI+ dapat terdampak secara tidak adil, seperti yang ditunjukkan oleh kasus-kasus ini. Sistem otomatis Meta mengidentifikasi konten tersebut berkali-kali, kendati tidak melanggar kebijakan Meta.
Meta harus berusaha mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang menangani semua kekhawatiran ini. Meta harus mengubah pendekatannya untuk mengelola ketelanjangan di platformnya dengan menetapkan kriteria yang jelas untuk mengatur kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, yang memastikan semua pengguna diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan standar hak asasi manusia. Meta juga harus memeriksa apakah kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual melindungi berbagi gambar tanpa izin dan apakah perlu penegasan kebijakan lain dalam hal ini.
Keputusan Dewan Pengawas
Dewan Pengawas membatalkan keputusan awal Meta untuk menghapus postingan tersebut.
Dewan juga merekomendasikan agar Meta:
- Menetapkan kriteria yang jelas, objektif, dan menghormati hak untuk mengatur Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, sehingga semua orang diperlakukan sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional, tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau gender. Meta pertama-tama harus melakukan penilaian dampak hak asasi manusia yang komprehensif atas perubahan tersebut, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dan membuat rencana untuk mengatasi bahaya apa pun yang teridentifikasi.
- Memberikan detail lebih lanjut dalam Standar Komunitas Ajakan Seksual yang ditujukan kepada publik tentang kriteria yang menyebabkan konten dihapus.
- Merevisi panduannya untuk moderator tentang Standar Komunitas Ajakan Seksual agar lebih akurat dengan mencerminkan aturan publik tentang kebijakan tersebut. Hal ini akan membantu mengurangi kesalahan penegakan di pihak Meta.
*Ringkasan kasus memberikan ikhtisar kasus dan tidak memiliki nilai preseden.
Keputusan kasus penuh
1. Ringkasan keputusan
Dewan Pengawas membatalkan keputusan awal Meta dalam dua kasus postingan Instagram yang dihapus oleh Meta. Meta telah mengakui bahwa keputusan awalnya dalam kedua kasus tersebut keliru. Kasus-kasus ini menimbulkan kekhawatiran penting tentang bagaimana kebijakan Meta berdampak secara tidak proporsional terhadap hak ekspresif pengguna perempuan dan LGBTQI+ di platformnya. Dewan merekomendasikan agar Meta harus menetapkan kriteria yang jelas, objektif, dan menghormati hak untuk mengatur keseluruhan kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, memastikan perlakuan yang sama bagi semua orang yang konsisten dengan standar hak asasi manusia internasional, dan menghindari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau identitas gender. Meta pertama-tama harus melakukan penilaian dampak hak asasi manusia yang komprehensif untuk meninjau implikasi penerapan kriteria tersebut, yang mencakup keterlibatan pemangku kepentingan yang inklusif secara luas di berbagai konteks ideologis, geografis, dan budaya. Sejauh penilaian ini harus mengidentifikasi potensi bahaya apa pun, penerapan kebijakan baru harus mencakup rencana mitigasi untuk mengatasinya.
Dewan selanjutnya merekomendasikan agar Meta mengklarifikasi kebijakan Ajakan Seksual yang ditujukan kepada publik dan mempersempit panduan penegakan internalnya supaya lebih tepat dalam menargetkan pelanggaran tersebut.
2. Deskripsi dan latar belakang kasus
Kasus-kasus ini menyangkut dua keputusan konten yang dibuat oleh Meta, yang ditangani bersama oleh Dewan Pengawas dalam keputusan ini. Dua gambar terpisah dengan keterangan tersebut diposting di Instagram oleh akun yang sama dan dikelola bersama oleh pasangan yang berdomisili di AS. Kedua gambar tersebut menampilkan pasangan tersebut, yang menyatakan dalam postingan tersebut, dan dalam pengajuan mereka ke Dewan, bahwa mereka mengidentifikasi diri sebagai transgender dan nonbiner.
Meta sempat menghapus kedua postingan berdasarkan Standar Komunitas Ajakan Seksual. Dalam kedua kasus tersebut, sistem otomatis Meta mengidentifikasi konten yang berpotensi melanggar.
Pada gambar pertama, yang diposting pada tahun 2021, keduanya bertelanjang dada dan menempelkan plester warna kulit yang menutupi putingnya. Pada gambar kedua, yang diposting pada tahun 2022, satu orang berpakaian, sementara satunya lagi bertelanjang dada dan menutupi putingnya dengan tangan. Keterangan yang menyertai gambar-gambar ini membahas bagaimana orang yang bertelanjang dada di kedua gambar tersebut akan segera menjalani operasi pengangkatan payudara, yakni operasi penegasan gender yang merekonstruksi dada yang lebih bidang. Mereka menjelaskan rencananya untuk mendokumentasikan proses operasi dan mendiskusikan masalah kesehatan transgender. Keduanya mengumumkan bahwa mereka mengadakan penggalangan dana untuk membayar operasi tersebut lantaran mereka kesulitan untuk mendapatkan pertanggungan asuransi untuk prosedur tersebut.
Dalam kasus pertama, gambar pertama kali diklasifikasikan secara otomatis sebagai tidak mungkin melanggar. Laporan tersebut ditutup tanpa ditinjau dan konten tersebut awalnya tetap bertahan di platform. Tiga pengguna kemudian melaporkannya sebagai konten pornografi dan membahayakan diri. Laporan ini ditinjau oleh moderator manusia yang menganggap postingan tersebut tidak melanggar. Saat konten tersebut dilaporkan oleh pengguna untuk keempat kalinya, peninjau manusia lainnya menemukan bahwa postingan tersebut melanggar Standar Komunitas Ajakan Seksual dan menghapusnya.
Dalam kasus kedua, postingan tersebut diidentifikasi dua kali oleh sistem otomatis Meta dan kemudian dikirim untuk ditinjau oleh manusia di mana postingan tersebut dianggap tidak melanggar untuk kedua kalinya. Kemudian, dua pengguna melaporkan konten tersebut, tetapi tiap laporan ditutup secara otomatis tanpa ditinjau oleh manusia dan konten tersebut tetap ada di Instagram. Terakhir, sistem otomatis Meta mengidentifikasi konten tersebut untuk ketiga kalinya dan mengirimkannya untuk ditinjau oleh manusia. Dua kali terakhir, pengklasifikasi Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual otomatis dari Meta melaporkan konten tersebut, tetapi alasan tinjauan berulang ini tidak jelas. Peninjau manusia terakhir ini menganggap bahwa postingan tersebut melanggar Standar Komunitas Ajakan Seksual dan menghapusnya.
Pemilik akun mengajukan banding atas kedua keputusan penghapusan tersebut ke Meta, dan konten tersebut ditinjau oleh manusia dalam kedua kasus tersebut. Namun, tinjauan ini tidak menyebabkan Meta memulihkan postingan tersebut. Pemilik akun kemudian mengajukan banding atas kedua keputusan penghapusan tersebut kepada Dewan. Dewan tengah mempertimbangkan kedua kasus ini secara bersamaan, pengalaman perdana bagi Dewan. Manfaat melakukan ini adalah untuk mengidentifikasi masalah serupa dalam kebijakan dan proses konten Meta dan menawarkan solusi yang mengatasi masalah ini.
Setelah Dewan memilih postingan ini dan Meta diminta untuk memberikan alasan atas keputusannya untuk menghapus konten tersebut, Meta mengidentifikasi penghapusan tersebut sebagai "kesalahan penegakan" dan memulihkan postingan tersebut.
Ketika mempertimbangkan mengapa kasus-kasus ini mewakili isu-isu penting, Dewan mencatat konteks yang relevan seiring banyaknya komentar publik yang diterima dalam kasus-kasus ini, banyak di antaranya berasal dari orang-orang yang diidentifikasi sebagai transgender, nonbiner, atau perempuan cis-gender yang menjelaskan bahwa mereka secara pribadi terdampak oleh kesalahan penegakan dan masalah serupa dalam kasus ini.
Dewan juga telah mencatat penelitian akademis sebagai konteks yang relevan, juga dikutip dalam komentar publik, oleh Haimson et al, Witt, Suzor dan Huggins, serta dua laporan oleh Salty tentang bias algoritmik dan penyensoran komunitas terpinggirkan. Studi-studi ini menemukan bahwa kesalahan penegakan dalam dua Standar Komunitas yang dibahas dalam kasus-kasus ini berdampak terhadap perempuan dan komunitas LGBTQI+ secara tidak proporsional. Rekan penulis salah satu studi ini adalah anggota Dewan Pengawas.
3. Otoritas dan lingkup Dewan Pengawas
Dewan memiliki kewenangan untuk meninjau keputusan Meta setelah banding dari pengguna yang postingannya telah dihapus (Piagam Pasal 2, Bagian 1; Anggaran Rumah Tangga Pasal 3, Bagian 1).
Dewan dapat menegakkan atau membatalkan keputusan Meta (Piagam Pasal 3, Bagian 5), dan keputusan ini mengikat perusahaan (Piagam Pasal 4). Meta juga harus menilai kelayakan penerapan keputusannya sehubungan dengan konten identik dengan konteks paralel (Piagam Pasal 4). Keputusan Dewan dapat mencakup pernyataan penasihat kebijakan dengan rekomendasi yang harus ditanggapi oleh Meta (Piagam Pasal 3, Bagian 4; Pasal 4).
Ketika Dewan memilih kasus seperti ini, di mana Meta mengakui bahwa pihaknya membuat kesalahan setelah Dewan mengidentifikasi kasus tersebut, Dewan meninjau keputusan awal. Hal ini untuk meningkatkan pemahaman tentang parameter kebijakan dan proses moderasi konten yang berkontribusi pada kesalahan dan untuk mengatasi masalah yang diidentifikasi oleh Dewan dengan kebijakan yang mendasarinya. Dewan juga bertujuan untuk membuat rekomendasi guna mengurangi kemungkinan kesalahan di masa mendatang dan memperlakukan pengguna dengan lebih adil ke depannya.
Ketika Dewan mengidentifikasi kasus yang mengangkat isu serupa, mereka dapat ditugaskan ke panel secara bersamaan untuk berunding bersama. Keputusan yang mengikat akan dibuat sehubungan dengan setiap konten.
4. Sumber otoritas
Dewan Pengawas mempertimbangkan otoritas dan standar berikut:
I. Keputusan Dewan Pengawas:
- Keputusan “Mengklaim kembali kata-kata berbahasa Arab” ( 2022-003-IG-UA). Dewan menganalisis tantangan menerapkan pengecualian kebijakan dan dampak yang tidak proporsional dari beberapa pilihan kebijakan.
- Keputusan “Sabuk Wampum” ( 2021-012-FB-UA). Dewan menganalisis tantangan menerapkan pengecualian kebijakan dan dampak yang tidak proporsional dari beberapa pilihan kebijakan.
- “Gejala kanker payudara dan ketelanjangan" ( 2020-004-IG-UA). Dewan menganalisis Pedoman Komunitas Instagram dan merekomendasikan agar Meta mengklarifikasi bahwa ada pengecualian kesadaran kanker payudara.
II. Kebijakan konten Meta:
Kasus-kasus ini melibatkan Pedoman Komunitas Instagram dan Standar Komunitas Facebook. Pusat Transparansi Meta menyatakan bahwa "Facebook dan Instagram berbagi Kebijakan Konten. Artinya, jika konten dianggap melanggar di Facebook, konten tersebut juga dianggap melanggar di Instagram”.
Ajakan Seksual
Pedoman Komunitas Instagram menyatakan bahwa “menawarkan layanan seksual” itu dilarang. Ketentuan ini kemudian ditautkan ke Standar Komunitas Facebook tentang Ajakan Seksual.
Dalam dasar kebijakan tentang Ajakan Seksual, Meta menyatakan: “Kami membuat batasan, bagaimanapun juga, ketika konten memfasilitasi, mendorong, atau mengkoordinasikan hubungan seksual atau layanan seksual komersial antara orang dewasa. Kami melakukan hal ini agar tidak memfasilitasi transaksi yang dapat melibatkan perdagangan manusia, pemaksaan, dan tindakan seksual tanpa izin. Kami juga membatasi bahasa vulgar eksplisit yang dapat berujung pada ajakan seksual karena sebagian pemirsa di dalam komunitas global kami mungkin merasa sensitif terhadap jenis konten ini dan konten tersebut bisa mengganggu kemampuan orang-orang untuk berinteraksi dengan teman-teman dan komunitas yang lebih luas”.
Standar Komunitas Facebook tentang Ajakan Seksual menyatakan bahwa Meta melarang ajakan eksplisit dan implisit. Ajakan implisit memiliki dua kriteria, yang keduanya harus dipenuhi agar konten dianggap melanggar kebijakan. Pertama adalah “penawaran atau permintaan” yang merupakan “Konten yang secara implisit atau tidak langsung (biasanya melalui penyediaan metode kontak) menawarkan atau meminta ajakan seksual”. Kriteria kedua adalah “elemen yang bersifat seksual” yaitu “Konten yang membuat penawaran atau permintaan yang disebutkan di atas menggunakan salah satu dari elemen yang bersifat seksual berikut”. Elemen yang tercantum termasuk “bahasa slang seksual regional” dan “pose”.
Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual
Pedoman Komunitas Instagram menyatakan bahwa pengguna harus: “Memposting foto dan video yang sesuai untuk pemirsa yang beragam. Kami tahu bahwa ada kalanya orang mungkin ingin membagikan gambar telanjang yang bersifat artistik atau kreatif, tetapi karena berbagai alasan, kami tidak mengizinkan ketelanjangan di Instagram. Hal ini termasuk foto, video, dan beberapa konten yang dibuat secara digital yang menunjukkan hubungan seksual, alat kelamin, dan potret dekat pantat yang sepenuhnya telanjang. Larangan ini juga termasuk beberapa foto puting perempuan, kecuali foto dalam konteks menyusui, momen melahirkan dan setelah melahirkan, situasi yang berhubungan dengan kesehatan (misalnya, pasca mastektomi, kesadaran kanker payudara, atau operasi penegasan gender), atau aksi protes diizinkan”. Bagian ini menautkan ke kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Facebook, yang memberikan detail lebih lanjut tentang aturan ini.
Sebagai bagian dari dasar kebijakan Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, Meta menjelaskan bahwa: “Kami membatasi tampilan ketelanjangan atau aktivitas seksual karena beberapa orang di komunitas kami mungkin sensitif terhadap jenis konten ini. Selain itu, kami secara default menghapus gambar seksual untuk mencegah berbagi konten tanpa izin atau anak di bawah umur”.
Kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Facebook juga menyatakan: “Dilarang memposting: Puting perempuan yang tidak tertutup, kecuali dalam konteks menyusui, momen persalinan dan pascapersalinan, konteks medis atau kesehatan (misalnya, pasca-mastektomi, kesadaran akan kanker payudara, atau operasi penegasan gender), atau tindakan protes”. Pengguna juga dapat memposting gambar alat kelamin saat dibagikan dalam “konteks medis atau kesehatan” (yang mencakup operasi penegasan gender), tetapi label akan diterapkan untuk memperingatkan orang-orang bahwa konten tersebut bersifat sensitif. Selain itu, setidaknya ada 18 faktor panduan internal tambahan tentang puting payudara dan pengecualiannya.
III. Nilai-nilai Meta:
Nilai-nilai Meta diuraikan dalam pengantar Standar Komunitas Facebook tempat nilai "Suara" dideskripsikan sebagai "yang terpenting":
Standar Komunitas kami senantiasa bertujuan menciptakan tempat untuk berekspresi dan memberikan kesempatan bagi orang untuk bersuara. [...] Kami ingin orang-orang mampu berbicara secara terbuka tentang isu yang penting bagi mereka, sekalipun beberapa orang mungkin tidak setuju atau menganggapnya tidak menyenangkan.
Meta membatasi "Suara" dalam melayani empat nilai, dua nilai di antaranya relevan di sini:
"Keamanan": Kami berkomitmen untuk menjadikan Facebook sebagai tempat yang aman. Ekspresi yang mengancam orang-orang berpotensi mengintimidasi, mengucilkan, atau membungkam orang lain dan hal ini tidak diizinkan di Facebook.
"Martabat": Kami yakin bahwa semua orang memiliki martabat dan hak yang setara. Kami berharap orang-orang akan menghargai martabat orang lain dan tidak melecehkan atau merendahkan mereka.
IV. Standar hak asasi manusia internasional:
Prinsip Pedoman PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia (UNGP), yang didukung oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada tahun 2011, menetapkan kerangka kerja sukarela untuk tanggung jawab hak asasi manusia bisnis swasta. Pada 2021, Meta mengumumkanKebijakan Hak Asasi Manusia Perusahaan yang menegaskan kembali komitmennya untuk menghormati hak asasi manusia sesuai dengan UNGP. Analisis Dewan tentang tanggung jawab hak asasi manusia Meta dalam kasus ini diilhami oleh standar hak asasi manusia berikut:
- Hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi: Pasal 19, Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik (ICCPR), Komentar Umum No. 34, Komite Hak Asasi Manusia, 2011; Komunikasi 488/1992; Resolusi 32/2 Dewan Hak Asasi Manusia, 2016; Pelapor Khusus PBB tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi, laporan: A/HRC/38/35 (2018) dan A/74/486 (2019).
- Hak-hak perempuan: Pasal 2 dan Pasal 5, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW).
- Hak anti diskriminasi: Pasal 2, para. 1 dan Pasal 26, ICCPR. Nepomnyashchiy v Russia, Komite Hak Asasi Manusia, 2018 ( CCPR/C/123/D/2318/2013).
5. Pengajuan pengguna
Dalam pengajuan mereka untuk kasus ini, pengguna menyatakan bahwa mereka yakin konten ini dihapus karena transfobia. Mereka menulis bahwa jika Dewan menegaskan bahwa konten ini harus tetap ada di platform, keputusan tersebut akan berkontribusi untuk menjadikan Instagram sebagai ruang yang lebih ramah untuk ekspresi LGBTQI+.
6. Pengajuan Meta
Meta menjelaskan dalam alasan keputusannya bahwa kedua penghapusan konten tersebut adalah kesalahan penegakan dan tidak ada postingan yang melanggar kebijakan Ajakan Seksual Meta. Meta menyatakan: “satu-satunya penawaran atau permintaan adalah donasi untuk penggalangan dana atau mengunjungi situs web untuk membeli kaus, tidak ada sangkut-pautnya dengan ajakan seksual”.
Meta juga menyatakan bahwa tidak ada postingan yang melanggar Standar Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual. Alasan tersebut menyatakan bahwa “panduan peninjau internal secara khusus membahas cara menangani ketelanjangan nonbiner, netral gender, atau transgender”. Konten dalam kasus ini dibagikan dalam “konteks nonbiner atau transgender secara eksplisit sebagaimana dibuktikan oleh keseluruhan topik konten (menjalani operasi pengangkatan payudara) dan tagar yang digunakan”. Meta menyimpulkan bahwa "meski puting dalam kasus ini terlihat dan tidak ditutupi, postingan tersebut tidak akan melanggar kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual kami". Meta juga mengakui bahwa di kedua gambar tersebut, puting “tertutup sepenuhnya”.
Mengingat waktu telah berlalu sejak konten dihapus, Meta tidak dapat memberi tahu Dewan tentang kebijakan atau kebijakan-kebijakan apa yang diprogram untuk diterapkan oleh semua sistem otomatis yang mengidentifikasi konten tersebut sebagai berpotensi melanggar. Dalam satu kasus, Meta dapat menjelaskan bahwa konten tersebut diantrekan untuk ditinjau dua kali oleh pengklasifikasi Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual. Meta juga tidak bisa memberikan penjelasan alasan peninjau menganggap konten tersebut melanggar kebijakan Ajakan Seksual. Alasan tersebut menyatakan bahwa Meta “menyadari bahwa beberapa peninjau konten mungkin keliru menghapus konten tersebut lantaran ajakan seksual implisit (meskipun sebenarnya tidak) berdasarkan penerapan yang terlalu teknis dari panduan peninjau internal kami”.
Dewan mengajukan 18 pertanyaan kepada Meta dan Meta menjawab semuanya.
7. Komentar publik
Dewan Pengawas mempertimbangkan 130 komentar publik terkait kasus ini. Sembilan puluh tujuh komentar dikirimkan dari Amerika Serikat & Kanada, 19 dari Eropa, 10 dari Asia Pasifik & Oseania, satu dari Amerika Latin dan Karibia, satu dari Timur Tengah dan Afrika Utara, satu dari Afrika Sub-Sahara, dan satu dari Asia Tengah & Selatan.
Pengajuan tersebut mencakup tema-tema berikut: kesalahan penghapusan konten dari pengguna transgender, nonbiner, dan perempuan; ketidakadilan dan ketidaksetaraan terhadap perbedaan berbasis gender untuk menentukan bentuk ketelanjangan apa yang diizinkan di platform; kebingungan tentang konten apa yang diizinkan berdasarkan Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, dan Ajakan Seksual; serta pentingnya media sosial untuk berekspresi dalam komunitas di mana hak LGBTQI+ terancam.
Untuk membaca komentar publik yang dikirimkan seputar kasus ini, silakan klik di sini. Beberapa komentar yang dikirimkan belum disertakan karena berisi informasi identifikasi pribadi mengenai individu selain pemberi komentar.
8. Analisis Dewan Pengawas
Dewan memperhatikan pertanyaan tersebut apakah postingan ini harus dipulihkan melalui tiga perspektif: Kebijakan konten Meta, nilai-nilai perusahaan, dan tanggung jawab hak asasi manusia.
Dewan memilih kasus-kasus ini lantaran penghapusan konten yang tidak melanggar yang diposting oleh orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai kelompok terpinggirkan telah memengaruhi kebebasan berekspresi mereka. Hal ini sangat penting karena Instagram dapat menjadi forum penting bagi kelompok-kelompok ini untuk membangun komunitas. Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana kesalahan penegakan dapat berdampak tidak proporsional terhadap kelompok tertentu dan dapat menandakan masalah yang lebih luas dalam kebijakan dan penegakan yang harus diperbaiki.
8.1 Kepatuhan terhadap kebijakan konten Meta
Dewan menganggap postingan ini tidak melanggar kebijakan konten Meta apa pun. Meskipun Pedoman Komunitas berlaku untuk Instagram, Meta juga menyatakan bahwa “Facebook dan Instagram berbagi kebijakan konten. Konten yang dianggap melanggar di Facebook juga dianggap melanggar di Instagram”. Standar Komunitas Facebook memberikan detail lebih lanjut dan ditautkan dalam Pedoman.
a. Ajakan Seksual
Standar Komunitas Ajakan Seksual menyatakan bahwa ajakan seksual implisit membutuhkan dua elemen:
- Konten yang berisi penawaran atau permintaan implisit DAN
- Elemen yang bersifat seksual.
Penawaran atau permintaan implisit.
Tawaran atau permintaan implisit didefinisikan dalam Standar Komunitas Ajakan Seksual sebagai “Konten yang secara implisit atau tidak langsung (biasanya melalui penyediaan metode kontak) menawarkan atau meminta ajakan seksual”. Dalam "Pertanyaan Umum" Meta, yang memberikan panduan internal tambahan untuk peninjau, daftar informasi kontak yang memicu penghapusan sebagai penawaran implisit mencakup tautan profil media sosial dan “tautan ke situs web berbasis langganan (misalnya, OnlyFans.com atau Patreon.com)”. Dalam kasus ini, konten tersebut menyediakan tautan ke platform tempat pengguna mengadakan penggalangan dana untuk membayar operasi. Karena kriteria internal Meta yang mendefinisikan "penawaran atau permintaan implisit" sangat luas, tautan ini secara teknis memenuhi syarat sebagai “penawaran atau permintaan” berdasarkan panduan peninjau Meta meskipun tidak melanggar standar yang ditunjukkan kepada publik, yang menunjukkan bahwa penawaran atau permintaan harus untuk sesuatu yang bersifat seksual.
Elemen yang bersifat seksual.
Standar Komunitas menyediakan daftar elemen yang bersifat seksual yang mencakup pose. Pertanyaan Umum memaparkan daftar, dijelaskan oleh Meta secara lengkap, tentang apa yang dicirikan sebagai pose yang bersifat seksual, termasuk telanjang “payudara perempuan yang ditutupi baik secara digital maupun oleh anggota tubuh manusia atau benda”. Pada kedua gambar tersebut, Dewan mencatat ada payudara yang ditutupi dengan anggota tubuh manusia (tangan) atau benda (plester). Dalam kasus ini, konten postingan tersebut memperjelas bahwa subjek foto diidentifikasi sebagai transgender dan nonbiner, artinya payudara yang digambarkan adalah milik individu yang tidak mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Dewan juga menganggap bahwa konten tersebut tidak bersifat seksual. Atas dasar itu, elemen kedua yang diperlukan agar dianggap melanggar kebijakan Ajakan Seksual - elemen yang bersifat seksual seperti pose seksual (yang mencakup payudara perempuan yang ditutupi) - tidak terpenuhi.
Karena elemen kedua tidak terpenuhi, maka postingan tersebut tidak melanggar standar ini. Menerapkan versi publik dari elemen pertama (yang menunjukkan penawaran/permintaan harus untuk sesuatu yang bersifat seksual) juga menunjukkan bahwa gambar-gambar ini bukan merupakan ajakan seksual.
b. Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual
Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual menyatakan bahwa pengguna tidak boleh memposting gambar “puting perempuan yang tidak ditutupi kecuali dalam konteks menyusui, melahirkan dan momen setelah melahirkan, konteks medis atau kesehatan (misalnya, pasca mastektomi, kesadaran kanker payudara, atau operasi penegasan gender) atau aksi protes”. Pertanyaan Umum Meta selanjutnya menyatakan bahwa peninjau harus mengizinkan “gambar puting ketika dibagikan dalam konteks transgender perempuan menjadi laki-laki, nonbiner, atau netral gender secara eksplisit (mis., pengguna menunjukkan identitas gender tersebut), terlepas dari ukuran atau bentuk payudara”. Tidak satu pun gambar dalam kasus ini yang melanggar Standar Komunitas ini.
Pertama, tidak satu pun dari gambar tersebut menampilkan puting yang tidak ditutupi. Dalam kedua gambar tersebut, individu tersebut telah menutupi putingnya dengan tangan atau plester. Kedua, jika putingnya tidak ditutupi, Dewan mencatat bahwa gambar tersebut dibagikan disertai teks yang memperjelas bahwa individu tersebut mengidentifikasi diri sebagai nonbiner. Oleh karena itu, kebijakan ini tidak dilanggar.
8.2 Kepatuhan terhadap nilai-nilai Meta
Dewan menganggap bahwa keputusan awal untuk menghapus postingan ini tidak sesuai dengan nilai Meta tentang "Suara" dan "Martabat" serta tidak sesuai dengan nilai "Keamanan".
Kesalahan penegakan yang berdampak tidak proporsional terhadap kelompok yang menghadapi diskriminasi menimbulkan ancaman serius terhadap “Suara” dan “Martabat”. Sementara argumen hak asasi manusia Meta membahas “Keamanan”, terutama terkait dengan berbagi gambar non-konsensual, perdagangan seks, dan pelecehan anak, Dewan menemukan penghapusan ini tidak memajukan “Keamanan”.
8.3 Kepatuhan terhadap tanggung jawab hak asasi manusia Meta
Kebebasan berekspresi (Pasal 19 ICCPR)
Pasal 19 ICCPR mengatur perlindungan ekspresi secara luas, termasuk diskusi tentang hak asasi manusia dan ekspresi yang dapat dianggap mengganggu (Komentar Umum 34, para. 11). Hak atas kebebasan berekspresi dijamin untuk semua orang tanpa diskriminasi mengenai “jenis kelamin” atau “status lain” (ICCPR, Pasal 2, para 1). Komite Hak Asasi Manusia telah mengonfirmasi dalam kasus seperti Nepomnyashchiy v Russia ( CCPR/C/123/D/2318/2013) bahwa larangan diskriminasi mencakup diskriminasi atas dasar identitas gender.
Konten tersebut berkaitan dengan isu-isu sosial yang penting. Untuk para pengguna ini, Instagram menyediakan forum untuk berdiskusi dan mewakili ekspresi gender mereka, menawarkan forum untuk menjalin koneksi dan mendapatkan dukungan. Konten tersebut juga dapat secara langsung memengaruhi kemampuan pengguna untuk menjalani operasi penegasan gender, karena kedua postingan tersebut menjelaskan bahwa satu orang akan menjalani operasi pengangkatan payudara dan membagikan penggalangan dana untuk menutup biaya operasi.
Pasal 19 mensyaratkan bahwa jika batasan ekspresi diberlakukan oleh suatu negara, batasan tersebut harus memenuhi persyaratan legalitas, tujuan yang sah, dan kebutuhan serta proporsionalitas (ICCPR, Pasal 19, para. 3). Berdasarkan kerangka kerja UNGP, Pelapor Khusus PBB untuk kebebasan berpendapat dan berekspresi telah meminta perusahaan media sosial untuk memastikan bahwa aturan kontennya dipandu oleh persyaratan Pasal 19, para. 3, ICCPR ( A/HRC/38/35, para. 45 dan 70). Dewan telah menerapkan kerangka kerja ini untuk menganalisis kebijakan dan penegakan Meta.
Dalam hal ini, Dewan menemukan bahwa Meta belum memenuhi tanggung jawabnya untuk membuat dan menegakkan kebijakan yang selaras dengan standar tersebut. Kriteria internal yang diterapkan untuk menghapus konten berdasarkan kebijakan Ajakan Seksual lebih luas daripada alasan yang dinyatakan untuk kebijakan tersebut, dengan konsekuensi penegakan berlebihan yang telah diakui Meta sendiri. Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual secara tidak proporsional memengaruhi pengguna perempuan dan LGBTQI+ serta mengandalkan persepsi subjektif dan spekulatif tentang jenis kelamin dan gender yang tidak dapat dijalankan saat terlibat dalam moderasi konten dalam skala besar. Dewan menganalisis kekurangan ini dan merekomendasikan Meta untuk memulai proses yang komprehensif untuk mengatasi masalah ini.
I. Legalitas (kejelasan dan aksesibilitas aturan)
Aturan yang membatasi ekspresi harus jelas dan dapat diakses sehingga mereka yang bertanggung jawab untuk menegakkannya, dan pengguna, mengetahui apa yang diizinkan. Kedua Standar Komunitas yang dipertimbangkan dalam kasus ini tidak memenuhi standar tersebut.
a. Ajakan Seksual
Dewan menganggap bahwa Standar Komunitas Ajakan Seksual dalam pedoman internal untuk peninjau berisi kriteria yang terlalu luas. Panduan yang tidak dirancang dengan baik ini berkontribusi pada penegakan berlebihan oleh peninjau dan kebingungan bagi pengguna. Meta mengakui hal ini, sebagaimana dijelaskan kepada Dewan bahwa menerapkan panduan internalnya dapat “menyebabkan penegakan berlebihan” dalam kasus di mana kriteria ajakan seksual implisit terpenuhi, tetapi jelas bahwa “tidak ada niat untuk ajakan seks”.
Kebingungan tercermin dalam kedua elemen kebijakan ini. Sehubungan dengan komponen ‘penawaran atau permintaan’ dari Standar Komunitas Ajakan Seksual, aturan yang ditujukan kepada publik mengacu pada “metode kontak” untuk pihak yang mengajak. Namun, panduan untuk moderator, Pertanyaan Umum, menyatakan bahwa “metode kontak” untuk ‘penawaran atau permintaan’ secara implisit mencakup tautan profil media sosial atau tautan ke situs web berbasis langganan pihak ketiga seperti Patreon. Tidak dijelaskan kepada pengguna bahwa tautan apa pun ke profil media sosial lain, platform pembayaran pihak ketiga, atau tautan penggalangan dana (seperti Patreon atau GoFundMe) dapat berarti bahwa postingan mereka diperlakukan sebagai permintaan. Kebingungan ini tercermin dalam banyaknya komentar publik yang diterima Dewan dari orang-orang yang tidak mengerti mengapa konten yang berisi tautan ke pihak ketiga itu dihapus atau menyebabkan akun mereka diblokir.
Kriteria kedua, yang mengharuskan elemen yang bersifat seksual, itu luas dan tidak jelas, serta tidak sesuai dengan kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Meta. Standar Komunitas yang ditujukan kepada publik mencakup “pose yang bersifat seksual” sebagai elemen yang bersifat seksual. Pertanyaan Umum kemudian memberikan daftar terperinci tentang “pose yang bersifat seksual” yang meliputi bertelanjang dada dan menutupi payudara dengan tangan atau benda. Pengguna cenderung tidak akan dapat memprediksi bahwa gambar apa pun dengan payudara tertutup dianggap sebagai pose berbau seksual. Kebingungan ini diperparah oleh fakta bahwa kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa mengizinkan foto telanjang dada dengan puting tertutup. Dalam hal ini, konten yang dianggap berbau seksual menurut satu kebijakan tidak dianggap seksual menurut kebijakan lain.
Selain ketidakpastian pengguna, fakta bahwa peninjau berulang kali mencapai hasil yang berbeda tentang konten ini menunjukkan kurangnya kejelasan bagi moderator tentang konten apa yang harus dianggap sebagai ajakan seksual.
Seperti yang diakui Meta, penerapan panduan internalnya seputar dua elemen ajakan implisit adalah menghapus konten yang tidak menjurus ke arah tindakan seksual. Dalam jangka panjang, kesalahan penghapusan kemungkinan besar akan diatasi dengan memodifikasi cakupan kebijakan ini. Namun, dalam jangka pendek, Dewan merekomendasikan agar Meta merevisi pedoman internalnya guna memastikan bahwa kriteria tersebut mencerminkan aturan yang ditujukan kepada publik dan memerlukan hubungan yang lebih jelas antara "penawaran atau permintaan" dan "elemen yang bersifat seksual”. Meta juga harus memberikan penjelasan yang lebih banyak kepada pengguna tentang apa yang dimaksud dengan "penawaran atau permintaan" untuk seks dan apa yang dianggap sebagai pose berbau seksual dalam Standar Komunitas publik.
b. Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual
Standar Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual didasarkan pada perbedaan jenis kelamin dan gender yang sulit diterapkan dan mengandung pengecualian yang tidak didefinisikan dengan baik. Aturan tertentu dalam kebijakan tersebut akan membingungkan pengguna, yang tidak tahu apa yang diizinkan. Hal ini juga menyebabkan kebingungan bagi moderator, yang harus membuat penilaian subjektif berdasarkan informasi tidak utuh yang susah dihindari dan dengan cepat menerapkan aturan dengan banyak faktor, pengecualian, dan praduga.
Meskipun menggunakan bahasa yang berfokus pada bagian tubuh tertentu alih-alih gender (dan memungkinkan pengguna untuk memilih berbagai identitas gender di profil mereka), sebagian besar aturan Meta tidak menjelaskan cara perusahaan menangani konten yang menggambarkan orang interseks, transgender, atau nonbiner. Misalnya, kebijakan mengacu pada “alat kelamin laki-laki dan perempuan”, “payudara perempuan”, dan “puting perempuan”, tetapi tidak jelas bagaimana deskripsi ini diterapkan pada orang dengan tubuh dan identitas yang mungkin tidak selaras dengan definisi tersebut. Banyak orang transgender dan nonbiner mengirimkan komentar publik ke Dewan yang menyatakan bahwa pengguna tidak tahu apakah konten mereka dinilai dan dikategorikan menurut identitas gender mereka, jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir, atau aspek penampilan fisik mereka.
Aturan saat ini mewajibkan peninjau manusia untuk segera menilai jenis kelamin pengguna, karena kebijakan ini berlaku untuk “puting perempuan”, dan identitas gender mereka, karena ada pengecualian berdasarkan apakah orang yang digambarkan adalah nonbiner, netral gender, transgender, atau postingan dalam konteks operasi konfirmasi gender. Persepsi tentang jenis kelamin dan gender membutuhkan interpretasi petunjuk dan penampilan kontekstual, yang keduanya merupakan penentuan subjektif yang kondusif untuk kesalahan.
Pendekatan ini makin diperumit oleh “prinsip default untuk perempuan” oleh Meta di mana kebijakan lebih ketat yang berlaku untuk ketelanjangan perempuan (sebagai lawan jenis dari laki-laki) berlaku dalam situasi yang meragukan. Pertanyaan Umum menyatakan bahwa jika tidak ada konteks yang jelas dan orang dalam gambar “menampilkan konteks transgender perempuan ATAU laki-laki menjadi perempuan, maka default untuk ketelanjangan perempuan dan berlaku kebijakan yang relevan”.
Jumlah batasan dan pengecualian aturan tentang puting yang dipersepsikan dengan perempuan bersifat ekstensif dan membingungkan. Rentang pengecualian berkisar dari tindakan protes hingga adegan persalinan dan menyusui, hingga konteks medis dan kesehatan, termasuk gambar pasca-mastektomi dan kesadaran kanker payudara. Pengecualian tersebut sering tanpa definisi atau tidak didefinisikan dengan baik. Daftar pengecualian juga telah bertambah secara substansial dari waktu ke waktu dan dapat diperkirakan untuk terus bertambah seiring perkembangan ekspresi. Saat berbicara tentang payudara perempuan, kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Meta membuat asumsi default bahwa penggambaran tersebut merupakan gambar seksual. Namun perluasan daftar pengecualian mencerminkan bahwa, berdasarkan berbagai keadaan yang diakui dalam kebijakan tersebut, gambar payudara perempuan tidak bernada seksual.
Bahkan dalam setiap pengecualian, banyak pertanyaan muncul. Misalnya, pengecualian operasi konfirmasi gender sangat penting bagi pengguna transgender dan nonbiner, tetapi Meta tidak memberikan penjelasan tentang ruang lingkup pengecualian operasi konfirmasi gendernya dalam aturan yang ditujukan untuk publik. Hal ini mengakibatkan banyak komentar publik yang mengungkapkan kebingungan tentang apakah konten yang diizinkan berdasarkan pengecualian dapat menyertakan foto pra-operasi (untuk membuat gambar sebelum dan sesudah) dan gambar perempuan transgender yang telah melakukan operasi pembesaran payudara. Panduan internal dan Pertanyaan Umum memperjelas bahwa pengecualian ini lebih sempit daripada yang dapat ditafsirkan dari panduan publik.
Kebijakan Meta didasarkan pada perbedaan biner antara laki-laki dan perempuan, yang menciptakan tantangan saat Meta mencoba mengartikulasikan pengecualian operasi konfirmasi gendernya. Dalam tanggapan Meta kepada Dewan, Meta menjelaskan bahwa pengecualian operasi konfirmasi gender berarti mengizinkan “puting perempuan yang tidak ditutupi sebelum individu menjalani operasi penegasan gender untuk mengangkat payudaranya ketika konten dibagikan dalam konteks transgender perempuan menjadi laki-laki, nonbiner, atau netral gender yang eksplisit”. Aturan lebih lanjut menyatakan “Puting perempuan transgender laki-laki menjadi perempuan yang telah menjalani operasi pembesaran payudara (operasi payudara) dilarang, kecuali ada bekas luka di puting”.
Pedoman internal tentang jaringan parut dan puting bedah bahkan lebih berbelit-belit. Aturan untuk mastektomi, misalnya, mengizinkan “Kasus di mana puting direkonstruksi dari jaringan lain atau distensil atau ditato” dan “kasus di mana setidaknya ada satu payudara yang diangkat melalui operasi, meskipun puting yang satunya terlihat”. Yang lebih membingungkan lagi, aturan tersebut menyatakan bahwa “Untuk mastektomi, jaringan parut mencakup penggambaran area bekas jaringan payudara yang diangkat. Bekas luka bedah yang sebenarnya tidak harus terlihat”.
Peninjau kemungkinan akan kesulitan untuk menerapkan aturan yang mewajibkan mereka untuk dengan cepat menilai karakteristik spesifik jenis kelamin dari orang yang digambarkan guna memutuskan apakah perlu diberlakukan aturan mengenai puting perempuan, dan kemudian gender orang tersebut guna menentukan apakah beberapa pengecualian berlaku, lalu mempertimbangkan apakah kontennya menggambarkan prekursor atau akibat dari prosedur bedah, jenis prosedur bedah, dan tingkat serta sifat jaringan parut yang terlihat, guna menentukan apakah pengecualian lain mungkin berlaku. Gambar puting yang menampilkan perempuan yang sama akan dilarang jika diposting oleh perempuan cisgender, tetapi diizinkan jika diposting oleh seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai nonbiner. Dewan juga mencatat pengecualian tambahan terkait puting berdasarkan konteks protes, melahirkan, setelah melahirkan, dan menyusui yang tidak diperiksa di sini, tetapi juga harus dinilai dan mungkin melibatkan kriteria internal tambahan.
Mengingat pentingnya hak ekspresif tentang masalah gender, kesehatan fisik, persalinan, dan pengasuhan anak, tambal sulam pengecualian yang kompleks saat ini menciptakan ketidakpastian yang tidak semestinya bagi pengguna dan memiliki potensi aturan yang salah diberlakukan, sebagaimana dibuktikan oleh kasus ini. Kurangnya kejelasan bagi pengguna dan moderator yang melekat pada kebijakan ini membuat standar tidak dapat dijalankan. Sebagaimana dibahas lebih lanjut di bawah ini, Dewan percaya bahwa Meta harus mengadopsi pendekatan ketelanjangan orang dewasa yang memastikan bahwa semua orang diperlakukan tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau identitas gender.
II. Tujuan yang sah
Pasal 19 ICCPR menyatakan bahwa apabila negara membatasi hak berekspresi, mereka hanya dapat melakukannya untuk mendorong tujuan yang sah, yang ditetapkan sebagai: “menghormati hak atau reputasi orang lain . . . [dan] perlindungan keamanan nasional atau ketertiban umum (ordre public), atau kesehatan dan moral komunitas”. Keputusan ini memeriksa alasan Meta untuk membatasi ujaran dalam kebijakannya sehubungan dengan standar tersebut.
a. Ajakan Seksual
Meta menjelaskan dalam kebijakan Ajakan Seksualnya bahwa hal tersebut “dimaksudkan guna mencegah pengguna agar tidak menggunakan Facebook atau Instagram untuk memfasilitasi “transaksi yang mungkin melibatkan aktivitas perdagangan, pemaksaan, dan tindakan seksual non-konsensual” yang dapat terjadi di luar platform. Ini adalah contoh upaya melindungi hak orang lain, yang merupakan tujuan yang sah.
b. Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual
Meta memberikan beberapa alasan untuk aspek-aspek tertentu dari kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, termasuk mencegah penyebaran konten non-konsensual, melindungi anak di bawah umur di mana usia orang tersebut tidak jelas dan fakta bahwa, “beberapa orang di komunitas kita mungkin sensitif dengan jenis konten ini”. Meta juga memberikan penjelasan tentang prinsip-prinsip umum tentang ketelanjangan kepada Dewan. Dinyatakan bahwa “Dalam menyusun kebijakan kami, Meta mempertimbangkan (1) sifat gambar yang bersifat pribadi atau sensitif; (2) apakah persetujuan diberikan dalam pengambilan dan pembagian gambar ketelanjangan; (3) risiko eksploitasi seksual; dan (4) apakah pengungkapan gambar tersebut dapat mengarah pada pelecehan di luar platform, khususnya di negara-negara di mana gambar tersebut dapat menyinggung budaya”.
Sebagian besar tujuan ini selaras dengan upaya melindungi hak orang lain. Namun, alasan Meta untuk melindungi “sensitivitas komunitas” perlu diperiksa lebih lanjut. Alasan ini memiliki potensi untuk menyelaraskan dengan tujuan “moral publik” yang sah. Meskipun demikian, Dewan mencatat bahwa tujuan untuk melindungi “moral publik” terkadang secara tidak tepat digunakan oleh regulator komunikasi pemerintah yang dapat melanggar hak asasi manusia, terutama anggota kelompok minoritas dan rentan. Komite Hak Asasi Manusia telah memperingatkan bahwa “konsep moral berasal dari banyak tradisi sosial, filosofis dan agama; akibatnya, pembatasan... untuk tujuan melindungi moral harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang tidak berasal secara eksklusif dari satu tradisi” (Komite Hak Asasi Manusia, Komentar Umum 34).
Meskipun hukum hak asasi manusia mengakui bahwa moral publik dapat menjadi tujuan yang sah dari pembatasan kebebasan berekspresi untuk berbagai negara, dan pembatasan ketelanjangan publik ada di seluruh dunia, Meta menekankan tujuan selain “sensitivitas komunitas” dalam konteks spesifik kasus ini. Meta menyatakan bahwa “meskipun kebijakan ketelanjangan[nya] sesuai dengan perlindungan moral publik [... kebijakan itu] pada akhirnya tidak didasarkan pada tujuan ini karena standar moral seputar ketelanjangan sangat berbeda di setiap budaya dan tidak akan dapat diterapkan dalam skala besar”. Misalnya, di banyak komunitas dan belahan dunia, penggambaran payudara transgender dan nonbiner yang tidak ditutupi mungkin dianggap melewati sensitivitas komunitas. Namun, Meta tidak membatasi hak berekspresi tersebut. Selain itu, Dewan prihatin dengan beban tidak proporsional yang diketahui dan berulang tentang ekspresi yang dialami oleh perempuan, transgender, dan orang-orang nonbiner karena kebijakan Meta (lihat di bawah). Karena alasan ini, Dewan berfokus pada tujuan lain di luar “sensitivitas komunitas” yang telah dikembangkan Meta dalam memeriksa tanggung jawab hak asasi manusianya.
Perlu dicatat bahwa beberapa alasan yang diberikan Meta untuk kebijakan ketelanjangannya mencerminkan asumsi default tentang sifat payudara perempuan yang menjurus ke arah seksual sebagai dasarnya. Dewan menerima komentar publik dari banyak pengguna yang menyatakan keprihatinan tentang dugaan seksualisasi tubuh perempuan, transgender, dan nonbiner, ketika tidak ada asumsi yang sebanding tentang seksualisasi gambar yang diterapkan pada pria cisgender. (Lihat, misalnya, Komentar Publik 10624 yang dikirimkan oleh InternetLab).
Dalam kasus ini, Dewan menerima banyak komentar publik melalui proses penjangkauan kasus normalnya. Sebagai badan yang berkomitmen untuk menawarkan pengukuran akuntabilitas kepada basis pengguna Meta dan pemangku kepentingan utama, Dewan menganggap serius komentar sebagai bagian dari pertimbangannya. Seperti halnya semua kasus, kami memahami bahwa komentar ini mungkin tidak mewakili opini global. Dewan menghargai pengalaman dan keahlian yang dibagikan melalui komentar dan terus mengambil langkah-langkah untuk memperluas jangkauannya ke komunitas yang saat ini mungkin tidak berpartisipasi dalam proses ini.
Terakhir, Dewan mengakui bahwa Meta mungkin secara sah mempertimbangkan pentingnya mencegah bahaya tertentu yang dapat berdampak secara gender. Sebagaimana dicatat oleh Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kekerasan terhadap perempuan, "penting untuk mengakui bahwa Internet digunakan dalam lingkungan yang lebih luas dengan diskriminasi struktural yang meluas dan sistemik serta kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak perempuan" (A/HRC/ 38/47). Lebih lanjut, survei menunjukkan bahwa "90 persen dari mereka yang menjadi korban distribusi digital gambar intim non-konsensual adalah perempuan". (A/HRC/38/47). Meta harus berupaya membatasi bahaya gender, baik dalam penegakan yang berlebihan dan kurangnya penegakan larangan ketelanjangan.
III. Kebutuhan dan proporsionalitas
Dewan menemukan bahwa kebijakan Meta, sebagaimana yang dibingkai dan ditegakkan, menangkap lebih banyak konten daripada yang diperlukan. Tidak ada kebijakan yang proporsional dengan masalah yang mereka coba tangani.
a. Ajakan Seksual
Definisi kebijakan Ajakan Seksual tentang "penawaran atau permintaan" implisit dan pose yang bersifat seksual terlalu luas dan terikat untuk mencakup sejumlah besar konten yang tidak terkait dengan ajakan seksual. Meta sendiri mengakui risiko penegakan yang salah, dengan menyatakan pihaknya “menyadari bahwa beberapa peninjau konten mungkin salah menghapus konten karena ajakan seksual implisit (meskipun sebenarnya tidak) berdasarkan pemberlakuan yang terlalu teknis dari panduan peninjau internal[nya]”. Meta melanjutkan:
Saat ini, berdasarkan Pertanyaan Umum kami, kami menganggap bahwa membagikan, menyebutkan, atau memberikan informasi kontak identitas sosial atau digital merupakan bentuk penawaran implisit atau permintaan ajakan seksual. […] Namun, memberlakukan pedoman ini dapat mengakibatkan penegakan yang berlebihan dalam kasus di mana, misalnya, seorang model dianggap oleh peninjau berpose yang bernada seksual (memenuhi kriteria “elemen yang bersifat seksual”) dan menandai fotografer untuk memberi mereka kredit atas gambar tersebut (memenuhi kriteria “penawaran atau permintaan”). Jenis konten ini tidak melanggar karena tidak ada maksud terkait ajakan seksual, namun tetap dapat dihapus (bertentangan dengan kebijakan) karena memenuhi dua kriteria yang diuraikan di atas.
UNESCO, dalam sebuah laporan yang membahas edukasi di ruang digital, menjelaskan risiko penegakan hukum yang berlebihan. Mencatat bahwa “peraturan yang ketat tentang berbagi gambar eksplisit berarti bahwa, dalam beberapa kasus, materi edukasi yang dipublikasikan secara online untuk mendukung pembelajaran tentang tubuh, atau hubungan seksual, dapat disalahartikan oleh moderator sebagai konten eksplisit yang tidak pantas dan oleh karenanya, dihapus dari platform web umum”. Dewan juga mencatat banyak komentar publik yang membahas kesalahan penghapusan berdasarkan Standar ini. Misalnya, ACON, (sebuah LSM edukasi HIV di Australia) menulis bahwa konten yang mempromosikan pesan pencegahan HIV dengan cara yang positif seks dan konten yang mempromosikan lokakarya edukasi telah dihapus karena alasan mengandung ajakan seksual. Hal ini mengakibatkan LSM tersebut menyesuaikan bahasa dalam konten mereka untuk menghindari penghapusan oleh Meta, alih-alih memilih bahasa terbaik untuk menjangkau komunitas target mereka (Komentar Publik 10550). Hal ini digaungkan oleh Joanna Williams, seorang peneliti yang menemukan bahwa sembilan dari dua belas organisasi kesehatan seksual yang dia wawancarai dilaporkan terdampak secara negatif oleh moderasi Meta di bidang ini (Komentar Publik 10613).
b. Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual
Selain tantangan dalam menetapkan aturan yang dapat ditegakkan dan diskalakan berdasarkan persepsi Meta tentang jenis kelamin dan identitas gender, sebagaimana yang dijelaskan di atas, Dewan juga menemukan bahwa kebijakan Meta tentang ketelanjangan orang dewasa menimbulkan batasan yang tidak proporsional terhadap beberapa jenis konten dan ekspresi. Kebijakan tersebut mengamanatkan penghapusan konten, ketika tindakan yang tidak terlalu membatasi dapat mencapai tujuan kebijakan yang dinyatakan.
Meta sudah menggunakan beragam tindakan penegakan selain penghapusan, termasuk penerapan layar peringatan dan konten dengan pembatasan usia untuk hanya mengizinkan pengguna berusia di atas 18 tahun yang dapat melihatnya. Selain itu, tindakan tersebut sudah diterapkan dalam kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, termasuk untuk penggambaran aktivitas seksual secara artistik. Meta mungkin juga perlu melibatkan moderator otomatis dan manusia untuk membuat penentuan yang lebih tepat dan spesifik konteks tentang kapan konteks telanjang benar-benar bersifat seksual, terlepas dari jenis kelamin tubuh yang digambarkannya. Meta selanjutnya dapat menerapkan berbagai intervensi kebijakan untuk membatasi visibilitas konten ketelanjangan kepada pengguna yang tidak ingin melihatnya dengan mengaktifkan kontrol pengguna yang lebih besar. Meta juga memiliki sejumlah kebijakan khusus tentang isu-isu yang juga ditangani melalui kebijakan ketelanjangan (seperti Kebijakan Eksploitasi Orang Dewasa serta kebijakan Eksploitasi, Pelecehan, dan Ketelanjangan Seksual Anak) yang dapat diperkuat.
Dewan mencatat bahwa praktik penegakan Meta dilaporkan menghasilkan jumlah positif palsu yang tinggi, atau kesalahan penghapusan konten yang sebenarnya tidak melanggar. Laporan Penegakan Standar Komunitas terakhir Meta untuk Instagram (April-Juni 2022) mengungkapkan bahwa 21% penghapusan konten karena kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual yang diajukan banding pada akhirnya dipulihkan. Dewan juga menerima banyak komentar publik tentang kesalahan penghapusan konten berdasarkan Kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa.
Antidiskriminasi
Terdapat bukti bahwa kebijakan dan penegakan Meta terkait kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual dapat menimbulkan dampak yang tidak proporsional, khususnya bagi perempuan dan kelompok LGBTQI+. Dampak ini tercermin baik dalam kebijakan maupun penegakan dan membatasi cara kelompok tersebut dapat mengekspresikan diri, menolak prasangka, dan meningkatkan visibilitas mereka di komunitas.
Meskipun kasus ini menyangkut pengguna transgender dan nonbiner, kesalahan penegakan dalam kasus ini berasal dari kebijakan mendasar yang juga memengaruhi perempuan, terutama karena Meta mengadopsi pendekatan ‘default untuk perempuan’ untuk konten ketelanjangan. Oleh karena itu, bagian ini mempertimbangkan bagaimana kebijakan Meta berdampak pada kaum LGBTQI+ dan perempuan. Volume pengajuan publik yang besar dalam kasus ini memberikan banyak gambaran tentang dampak yang dapat ditimbulkan oleh kebijakan ini.
Hak atas kebebasan berekspresi dijamin bagi semua orang tanpa diskriminasi mengenai "jenis kelamin" atau "status lain" (Pasal 2, paragraf 1, ICCPR). Hal ini termasuk orientasi seksual dan identitas gender ( Toonen v. Australia (1994); A/HRC/19/41, para. 7). Yurisprudensi Komite Hak Asasi Manusia mencatat bahwa “tidak setiap perbedaan berdasarkan alasan yang tercantum dalam pasal 26 Kovenan merupakan diskriminasi, selama hal tersebut didasarkan pada kriteria yang wajar dan objektif serta dalam mengupayakan tujuan yang sah berdasarkan Kovenan”. Nepomnyashchiy v Rusia, Komite Hak Asasi Manusia, 2018, para. 7.5 (CCPR/C/123/D/2318/2013).
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) melarang “setiap perbedaan, pengecualian, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang berdampak atau bertujuan merusak atau meniadakan pengakuan, kenyamanan, atau aktivitas oleh perempuan […] atas dasar kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, dan kebebasan dasar di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau lainnya” (CEDAW, Art. 1). Dewan mencatat bahwa badan-badan hak asasi manusia internasional belum membahas implikasi hak asasi manusia dari mengizinkan atau melarang ketelanjangan orang dewasa konsensual dan potensi dampak diskriminatifnya.
Prinsip Panduan PBB menyatakan bahwa "perusahaan bisnis harus memberi perhatian khusus terhadap setiap dampak hak asasi manusia tertentu pada individu dari kelompok atau populasi yang mungkin memiliki risiko tinggi terhadap kerentanan atau marginalisasi" ( UNGPs, Prinsip 18 dan 20) . Pelapor Khusus tentang kebebasan berekspresi telah mendesak perusahaan teknologi untuk “secara aktif mencari dan mempertimbangkan keprihatinan komunitas yang secara historis berisiko terhadap penyensoran dan diskriminasi” ( A/HRC/38/35, paragraf 48). Kelompok Kerja PBB untuk Bisnis dan Hak Asasi Manusia juga telah merekomendasikan agar perusahaan teknologi memastikan bahwa “kecerdasan buatan dan otomatisasi tidak memiliki dampak buruk yang tidak proporsional terhadap hak asasi perempuan” ( Panduan Dimensi Gender).
Mengingat pentingnya platform media sosial sebagai arena berekspresi bagi individu yang mengalami diskriminasi, Dewan telah secara konsisten mengartikulasikan harapannya bahwa Meta sangat sensitif terhadap kemungkinan penghapusan konten yang salah oleh, tentang, atau anggota yang menggambarkan grup tersebut. Sebagaimana yang dicatat Dewan dalam keputusan "sabuk Wampum" (2021-012-FB-UA) terkait ekspresi artistik dari orang Pribumi, tidaklah cukup untuk mengevaluasi kinerja penegakan Meta terhadap kebijakan Ujaran Kebencian Facebook di populasi pengguna secara keseluruhan – efek pada kelompok tertentu harus diperhitungkan. Demikian pula, dalam kasus “Mengklaim kembali kata-kata berbahasa Arab”, Dewan menegaskan bahwa “moderasi ujaran yang berlebihan oleh pengguna dari kelompok minoritas yang teraniaya merupakan ancaman serius bagi kebebasan berekspresi mereka” dan menyatakan keprihatinan tentang bagaimana pengecualian dalam kebijakan Meta (dalam kasus ini, kebijakan Ujaran Kebencian) diberlakukan pada ekspresi dari kelompok yang terpinggirkan ( 2022-003-IG-UA).
Konsekuensi dari pilihan Meta menghasilkan perbedaan kesempatan berekspresi yang berbeda bagi kaum perempuan, transgender, dan nonbiner di platformnya. Kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Meta saat ini memperlakukan payudara dan puting perempuan sebagai hal seksual secara inheren, dan dengan demikian tunduk pada larangan, kecuali jika mereka telah atau akan dioperasi atau sedang menyusui. Alih-alih mengambil langkah untuk memastikan bahwa penyensoran tidak memengaruhi beberapa kelompok secara tidak proporsional, kebijakan Meta memperkuat dan melangsungkan dampak tersebut terhadap kelompok-kelompok tersebut.
Kasus-kasus ini menyoroti dampak yang tidak proporsional dari pilihan kebijakan Meta untuk orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai LGBTQI+, karena konten diidentifikasi berkali-kali oleh pengklasifikasi Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual meskipun berada di luar cakupan kebijakan. Dewan percaya bahwa kasus-kasus ini merupakan simbol dari masalah yang lebih luas. Misalnya, studi oleh Haimson et al. menemukan bahwa kaum transgender melaporkan tingginya tingkat penghapusan konten dan akun, yang biasanya karena konten ketelanjangan dan seksual.
Penegakan pilihan kebijakan Meta juga memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan. Sebuah studi oleh Witt, Suzor, dan Higgins menemukan bahwa hingga 22% gambar tubuh perempuan yang dihapus dari Instagram ternyata positif palsu. Dampak diferensial pada tubuh perempuan juga dicatat dalam komentar publik (lihat, misalnya, Komentar Publik 10616 oleh Dr. Zahra Stardust).
Posisi asli ketelanjangan ini juga memiliki dampak yang parah dalam konteks di mana perempuan secara tradisional boleh bertelanjang dada. Pelapor Khusus tentang promosi dan perlindungan hak untuk memiliki kebebasan berpendapat dan berekspresi telah mendesak agar perusahaan melibatkan kelompok komunitas adat di seluruh dunia untuk “mengembangkan indikator yang lebih baik guna mempertimbangkan konteks budaya dan seni saat menilai konten yang menampilkan ketelanjangan” (para. 54, A/HRC/38/35 ).
Selain kekhawatiran antidiskriminasi terkait kebijakan ini, kasus-kasus ini juga mengangkat kekhawatiran antidiskriminasi terkait penegakan hukum. Meta harus cermat bahwa konten dari pengguna yang teridentifikasi sebagai kelompok terpinggirkan memiliki risiko lebih besar untuk pelaporan berulang atau berbahaya, di mana pengguna melaporkan konten yang tidak melanggar untuk membebani atau melecehkan pengguna. Isu-isu ini juga diangkat oleh beberapa komentar publik (lihat, misalnya, Komentar Publik 10596 oleh GLAAD dan Komentar Publik 10628 oleh The Human Rights Campaign Foundation).
Kasus ini menyoroti bahwa beberapa laporan yang menghasilkan beberapa tinjauan dapat meningkatkan kemungkinan penghapusan yang keliru. Memang, dalam kasus ini, sebagian besar laporan pengguna menghasilkan tinjauan manual yang menemukan bahwa konten tersebut tidak melanggar, tetapi konten tersebut terus dilaporkan hingga peninjau pada akhirnya secara keliru menentukan bahwa konten tersebut melanggar lalu menghapusnya.
Meta harus melihat untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang membantu memperbaiki semua kekhawatiran ini. Hal ini dapat mencakup kebijakan yang lebih seragam sehubungan dengan ketelanjangan yang berlaku tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin atau identitas gender. Mereka juga dapat menyertakan penentuan yang lebih kontekstual tentang konten apa yang bersifat seksual, selama penentuan tersebut menghindari ketergantungan pada kriteria diskriminatif dalam membuat penentuan tersebut.
Dewan mencatat bahwa Meta memiliki kebijakan khusus untuk menangani foto intim tanpa izin dalam kebijakan Eksploitasi Seksual Orang Dewasa. Hal ini telah menjadi arena penegakan yang diprioritaskan oleh perusahaan (lihat, misalnya, pengenalan teknologi deteksi otomatis mereka untuk menghentikan gambar non-konsensual yang diposting berulang kali). Saat Meta mempertimbangkan untuk mengubah pendekatannya dalam mengelola ketelanjangan di platform, Meta harus memeriksa dengan cermat sejauh mana kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual melindungi terhadap pembagian gambar non-konsensual dan untuk memahami apakah perubahan dalam kebijakan Eksploitasi Seksual Dewasa atau penegakannya mungkin diperlukan untuk memperkuat efikasinya.
Dewan juga mengakui bahwa Meta mungkin memiliki kepentingan yang sah dalam membatasi konten seksual atau pornografi di platformnya. Namun, Dewan percaya bahwa tujuan bisnis yang relevan dapat dan harus dipenuhi dengan pendekatan yang memperlakukan semua pengguna tanpa diskriminasi.
Beberapa anggota Dewan berpendapat bahwa Meta harus berupaya mengurangi dampak diskriminatif dari kebijakannya yang ada saat ini dengan mengadopsi kebijakan ketelanjangan orang dewasa yang tidak didasarkan pada perbedaan jenis kelamin atau gender. Mereka mencatat ketentuan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) tentang penghapusan stereotipe gender (lihat, misalnya Pasal 5 dan 10) dan komitmen eksplisit Meta terhadap CEDAW dalam kebijakan hak asasi manusia perusahaannya. Mereka menyimpulkan bahwa, dalam konteks kebijakan ketelanjangan, standar hak asasi manusia internasional ini dan komitmen Meta sendiri terhadap upaya antidiskriminasi, mendukung penghapusan perbedaan stereotipe. Kelompok anggota ini telah menyimpulkan bahwa beralih ke kebijakan yang tidak didasarkan pada jenis kelamin atau perbedaan gender akan menjadi cara terbaik bagi Meta untuk menjunjung tinggi tanggung jawab hak asasi manusia sebagai sebuah bisnis, mengingat nilai dan komitmen perusahaannya. Para anggota ini mencatat bahwa norma dan kebijakan harus berkembang guna menangani konvensi yang memiliki dampak diskriminatif, karena banyak bentuk diskriminasi telah atau terus menjadi konvensi sosial yang tersebar luas.
Ada beberapa ketidaksepakatan di antara Anggota Dewan tentang masalah ini. Beberapa anggota pada prinsipnya setuju bahwa Meta tidak boleh bergantung pada jenis kelamin atau gender untuk membatasi hak berekspresi, tetapi mereka sangat skeptis terhadap kemampuan Meta untuk secara efektif menangani foto intim tanpa izin dan potensi bahaya lainnya tanpa kebijakan ketelanjangan yang sadar akan jenis kelamin dan gender. Anggota Dewan lainnya percaya bahwa karena prinsip-prinsip hak asasi manusia yang berlaku tentang antidiskriminasi mengizinkan perbedaan atas dasar karakteristik yang dilindungi selama hal tersebut “didasarkan pada kriteria yang wajar dan objektif dan dalam mengejar tujuan yang sah menurut Kovenan”, ( Nepomnyashchiy v Russia, Komite Hak Asasi Manusia, 2018, paragraf 7.5 (CCPR/C/123/D/2318/2013), kebijakan tentang ketelanjangan yang netral jenis kelamin dan gender tidak diperlukan dan dapat menyebabkan atau memperparah kerusakan lainnya.
Anggota Dewan yang mendukung kebijakan ketelanjangan orang dewasa yang netral jenis kelamin dan gender mengakui bahwa berdasarkan standar hak asasi manusia internasional yang diberlakukan di berbagai negara, perbedaan atas dasar karakteristik yang dilindungi dapat dibuat berdasarkan kriteria yang wajar dan objektif dan ketika hal tersebut berfungsi untuk tujuan yang sah. Mereka tidak percaya bahwa perbedaan dalam kebijakan ketelanjangan Meta memenuhi standar tersebut. Mereka lebih lanjut mencatat bahwa, sebagai sebuah bisnis, Meta telah membuat komitmen hak asasi manusia yang tidak konsisten dengan pendekatan yang membatasi hak berekspresi online berdasarkan persepsi perusahaan tentang jenis kelamin dan gender.
Standar Komunitas Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual secara tidak proporsional memengaruhi pengguna perempuan dan LGBTQI+ serta mengandalkan persepsi subjektif dan spekulatif tentang jenis kelamin dan gender yang tidak dapat dijalankan saat terlibat dalam moderasi konten dalam skala besar. Dilihat secara komprehensif, mengingat kebingungan seputar aturan dan penegakannya, serta dampak yang tidak proporsional dan diskriminatif dari kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual Meta saat ini, Dewan merekomendasikan agar Meta menetapkan kriteria yang jelas, objektif, dan menghormati hak untuk mengatur keseluruhan Kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa, guna memastikan perlakuan terhadap semua orang yang konsisten dengan standar hak asasi manusia internasional, termasuk tanpa diskriminasi atas dasar jenis kelamin atau identitas gender. Meta pertama-tama harus melakukan penilaian dampak hak asasi manusia yang komprehensif untuk meninjau implikasi penerapan kriteria tersebut, yang mencakup keterlibatan pemangku kepentingan yang inklusif secara luas di berbagai konteks ideologis, geografis, dan budaya. Sejauh penilaian ini harus mengidentifikasi potensi bahaya apa pun, penerapan kebijakan baru harus mencakup rencana mitigasi untuk mengatasinya. Dewan meminta laporan penilaian dan rencana enam bulan sejak tanggal diterbitkannya keputusan ini.
9. Keputusan Dewan Pengawas
Dewan Pengawas membatalkan keputusan awal Meta untuk menghapus kedua postingan tersebut, yang mewajibkannya untuk dipulihkan.
10. Pernyataan anjuran kebijakan
Kebijakan konten
1. Untuk memperlakukan semua pengguna secara adil dan memberikan standar ketelanjangan yang dapat diberlakukan terhadap moderator dan publik, Meta harus menetapkan kriteria yang jelas, objektif, dan menghormati hak untuk mengatur keseluruhan kebijakan Ketelanjangan Orang Dewasa dan Aktivitas Seksual, guna memastikan perlakuan terhadap semua orang yang konsisten dengan standar hak asasi manusia internasional, termasuk tanpa diskriminasi atas dasar jenis kelamin atau identitas gender. Meta pertama-tama harus melakukan penilaian dampak hak asasi manusia yang komprehensif untuk meninjau implikasi penerapan kriteria tersebut, yang mencakup keterlibatan pemangku kepentingan yang inklusif secara luas di berbagai konteks ideologis, geografis, dan budaya. Sejauh penilaian ini harus mengidentifikasi potensi bahaya apa pun, penerapan kebijakan baru harus mencakup rencana mitigasi untuk mengatasinya.
2. Untuk memberikan kejelasan yang lebih baik kepada pengguna, Meta harus memberi penjelasan selengkapnya kepada pengguna tentang apa yang dimaksud dengan "penawaran atau permintaan" untuk seks (termasuk tautan ke situs web pihak ketiga) dan apa yang dimaksud dengan pose yang bersifat seksual dalam Standar Komunitas publik. Dewan akan mempertimbangkan rekomendasi ini untuk diterapkan ketika penjelasan tentang istilah-istilah ini yang disertai contoh ditambahkan ke Standar Komunitas Ajakan Seksual.
Penegakan
3. Untuk memastikan bahwa kriteria internal Meta untuk kebijakan Ajakan Seksualnya tidak mengakibatkan penghapusan lebih banyak konten daripada yang diindikasikan oleh kebijakan yang ditujukan untuk publik dan agar konten non-seksual tidak dihapus secara keliru, Meta harus merevisi panduan peninjau internalnya guna memastikan bahwa kriteria tersebut mencerminkan aturan yang ditujukan untuk publik dan membutuhkan hubungan yang lebih jelas antara "penawaran atau permintaan" dan "elemen yang bersifat seksual". Dewan akan menganggap kebijakan ini diterapkan ketika Meta memberi Dewan pedoman internal yang diperbarui yang mencerminkan kriteria yang direvisi ini.
*Catatan prosedural:
Keputusan Dewan Pengawas disiapkan oleh panel yang terdiri dari lima Anggota dan disetujui oleh mayoritas anggota Dewan. Keputusan Dewan tidak selalu mewakili pandangan pribadi semua Anggota.
Untuk keputusan kasus ini, penelitian independen ditugaskan atas nama Dewan. Sebuah lembaga penelitian independen yang berkantor pusat di University of Gothenburg dan terdiri dari tim yang beranggotakan lebih dari 50 ilmuwan sosial di enam benua, serta lebih dari 3.200 pakar negara dari seluruh dunia, memberikan keahlian dalam konteks sosio-politik dan budaya. Dewan juga dibantu oleh Duco Advisors, sebuah firma penasihat yang berfokus pada persimpangan geopolitik, kepercayaan dan keselamatan, serta teknologi.
العودة إلى قرارات الحالة والآراء الاستشارية المتعلقة بالسياسة